Rabu, 13 Juli 2011

Sayangilah Orang Tua Kita




Ada sebatang pohon mangga. Daunnya rimbun, sarat berbuah sepanjang tahun. Seorang anak kecil sangat senang bermain di pohon mangga setiap harinya. Memanjat ke puncak pohon, merayap ke dahan, dan memetik buahnya. Kemudian meluncur turun bersandar di batang pohon dan terlelap dalam kesejukan naungan daun yang rimbun. Ia mencintai pohon mangga itu dan demikian pula pohon mangga itu kepadanya.

Waktu berlalu dengan cepatnya. Anak kecil itu tumbuh menjadi remaja. Dia tidak lagi suka bermain-main dan tentunya jarang mendatangi pohon mangga itu.

Sampai suatu hari si remaja menghampiri pohon mangga dengan wajah muram. Pohon mangga menyambutnya dengan gembira: "Mari bermain seperti dahulu". "Saya bukan anak-anak lagi, saya sudah remaja, sudah tidak senang bermain". "Lalu apa masalahmu. Katakanlah, mungkin saya dapat menolongmu," pohon mangga membujuk. "Begini, saya ingin mempunyai kecapi yang merdu untuk menghibur kekasihku," si remaja ini mengutarakan kemusykilannya. "Oh, itu mudah, petiklah buahku, kemudian juallah untuk memperoleh uang. Maka engkau dapat membeli kecapi yang merdu".

Si remaja itu bangkit semangatnya. Dipetiknya buah mangga itu sampai tak bersisa. Pohon mangga tampak gembira, karena telah mengeluarkan si remaja itu dari kesusahannya.

Suatu hari remaja itu datang lagi ke pohon mangga. Bergembiralah pohon mangga memanggilnya untuk bermain. "Saya tidak punya waktu untuk bermain, saya telah dewasa, telah beristeri," ujar remaja yang telah dewasa itu. "Lalu kesulitan apa pula, boleh jadi saya dapat menolongmu lagi," kata pohon mangga. "Begini, saya membutuhkan rumah tempat tinggal". Belum sempat pemuda dewasa itu mengakhiri kalimatnya, pohon mangga menyela: "O, mudah pangkaslah semua dahan, dan cabang batangku, cukuplah itu untuk mendirikan rumah. Pemuda itu lalu memangkas. Maka tinggallah pohon mangga seperti tonggak, hanya batang tanpa dahan, cabang, ranting bahkan daun. Tumbuh tidak, matipun tidak.

Waktu berlalu, datanglah si pemuda itu ke pohon mangga yang sudah menjadi tonggak. "Boleh jadi inilah yang terakhir saya minta nasihat kepadamu. Saya sudah menjelang manula. Aku ingin menikmati hari tua, berlayar di danau. Bagaimana mungkin saya mendapatkan perahu,?" "Tebanglah batangku pada pangkalnya, buatlah perahu", kata akhir pohon mangga.

Kini pohon mangga yang dahulu berdaun rimbun, berbuah lebat, hanya tinggal akar-akarnya saja yang tersembul sedikit di atas tanah. Musim dan tahun berganti. Laki-laki yang sudah tua renta itupun datang kembali. Yang diinginkannya hanya sekedar melabuhkan dirinya berbantalkan akar pohon mangga.

Pohon mangga ibarat kedua orang tua kita. Ketika kecil kita senang bermain dengan mereka. Tatkala dewasa, kita tinggalkan beliau berdua, hanya datang bila dianggap perlu. Padahal bagaimanapun keadaan mereka, orang tua tetap akan memberikan segalanya kepada kita. Selayaknyalah kita mendoakan kedua orang tua kita.

Ibarat pohon mangga tadi,kita biasanya hanya bisa meminta kepada orang tua kita. Bahkan kita tidak memikirkan keadaan mereka, mungkin keadaan mereka sedang kekurangan atau sedang kesusahan, kita masih tetap saja meminta mereka untuk memenuhi kebutuhan kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan mereka.
Dengan adanya artikel ini saya selaku penulis ingin mengajak para pembaca untuk lebih peduli dan mengerti terhadap keadaan orang tua kita. Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua.

Sumber:  renungan harian

Mukjizat Iman: Jenazah santo-santa yang tidak membusuk

 Santa Bernadette dari Lourdes (wafat tahun 1879).



 Santa Catherine Laboure (wafat 1876).



Santa Clare dari Assisi (wafat tahun 1253, sahabat Santa Francis dari Assisi).
 
Santa Maria Goretti (wafat tahun 1902).



 Santa Rita dari Cascia (wafat tahun 1457).


 Santa Veronica Giuliani (wafat tahun 1727).


 Santo John Vianney (wafat tahun 1859).


Santo Pio dari Pietrelcina (wafat tahun 1968)

Riwayat Hidup Santa Bernadette Soubirous dari Lourders

Gadis Bersahaja yang Memandang Wajah Bunda Maria


Semua orang tahu bagaimana rasanya jika sedang sakit. Tidak enak'kan? Karenanya, tidak seorang pun yang mau sakit! Inilah kisah tentang seorang gadis yang hampir sepanjang hidupnya menderita sakit. Namun ia menanggung segala penderitaannya itu dengan tabah dan penuh sukacita. Sekarang ia diangkat menjadi santa pelindung orang-orang sakit. Namanya ialah Bernadette.

Pada tanggal 7 Januari 1844, dari pasangan Francois Soubirous -seorang pengusaha penggilingan gandum yang jatuh miskin- dan isterinya, Louise Casterot, lahirlah seorang bayi, anak mereka yang sulung. Bayi itu mereka beri nama Marie Bernarde. Karena perawakannya yang kecil mungil, anak itu kemudian biasa dipanggil Bernadette (Bernarde kecil).

Sejak bayi kesehatan Bernadette kurang baik. Ia selalu saja menderita sakit, terutama asma. Bukannya mengeluh, tetapi Bernadette mempersembahkan semua penderitaannya kepada Tuhan sebagai silih demi pertobatan orang-orang berdosa. . Bagi Bernadette, sakit juga bukan berarti bebas dari segala tugas dan kewajiban. Ia tetap harus membantu ibunya mengasuh kelima adiknya. Dan ketika Bernadette telah dianggap cukup umur, ia pun harus bekerja sebagai pembantu dan penggembala ternak.

Suatu hari, pada tanggal 11 Februari 1858, suatu peristiwa yang luar biasa terjadi. Ketika ia bersama seorang adik dan seorang temannya sedang mencari kayu bakar di padang, Bunda Maria menampakkan diri kepadanya di sebuah gua yang disebut Massabielle (=Batu Besar), di tepi sungai Gave dekat kota Lourdes. Bernadette tidak tahu siapa wanita cantik itu dan apa yang ia inginkan. Bunda Maria menampakkan diri kepadanya sebanyak 18 kali. Pada tanggal 25 Maret 1858, pada penampakannya yang ke-16, Bunda Maria mengungkapkan siapa dirinya, "Akulah yang Dikandung Tanpa Dosa." ('Que Soy Era Immaculada Conceptiou' atau 'I Am The Immaculate Conception'). Baca KISAH PENAMPAKAN seperti diceritakan sendiri oleh Bernadette.



Setelah peristiwa penampakan itu Bernadette semakin banyak menderita, baik karena kecurigaan orang-orang yang tidak mau percaya, oleh perhatian berlebihan dari mereka yang percaya serta ancaman dari penguasa setempat. Semuanya itu ditanggungnya dengan tabah dan sabar.

Pada usia 22 tahun, Bernadette menggabungkan diri dengan Suster-suster Karitas di Nevers, Perancis. Tiga belas tahun lamanya ia tinggal di biara dan sebagian besar dari waktu tersebut dihabiskannya di tempat tidur karena sakit yang dideritanya.

"Pekerjaanku semakin maju," kata Bernadette.
"Pekerjaan apa?" tanya seorang suster keheranan.
"Pekerjaan bersakit-sakit!" jawabnya sambil tersenyum.

Bernadette seorang yang sangat rendah hati. Lebih dari apa pun, ia tidak ingin dipuji. Suatu ketika seorang suster bertanya kepadanya apakah ia merasa bangga karena dipilih oleh Bunda Maria. "Bagaimana mungkin," Bernadette cepat-cepat menjawab, "Bunda Maria memilih saya justru karena saya inilah yang paling hina." Suatu jawaban dari kerendahan hati yang paling dalam!

Bernadette wafat pada tanggal 16 April 1879 dalam usia 35 tahun karena penyakit tuberculosis. Tubuhnya masih utuh hingga kini meskipun ia telah meninggal lebih dari seabad yang lalu. Pada tahun 1933 Bernadette diangkat sebagai santa oleh Paus Pius XI. Pestanya dirayakan pada tanggal 16 April.